Mizanul Akrom lahir di Kebumen. Ia tumbuh dari keluarga petani sederhana di Desa Ambarwinangun, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen-Jawa Tengah. Latar sosial yang jauh dari kemewahan justru membentuk watak intelektualnya: kritis, tahan banting, dan tidak mudah tunduk pada otoritas pengetahuan yang mapan. Ia adalah putra dari almarhum Abdul Gofir bin H. Bisri dan almarhumah Syari’ah Kafiyah binti Rusdi.
Pendidikan keagamaannya ditempa sejak dini hingga membawanya menempuh studi di Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen, lalu melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Dunia kampus bukan sekadar ruang memperoleh gelar, melainkan arena berkelahi dengan gagasan: membaca, berdebat, menulis, dan mempertanyakan ulang cara berpikir yang beku dan dogmatis.
Di luar aktivitas akademik, Akrom adalah pembaca rakus, penulis gelisah, penggemar diskusi panjang, aktivis organisasi, serta penikmat musik dan hobi bermain gitar. Minat intelektualnya berkelindan pada filsafat, pendidikan, pemikiran Islam, dan kajian pemikiran kritis. Sosok yang paling memengaruhi cara berpikir dan keberpihakannya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, seorang tokoh yang baginya bukan hanya pemikir, tetapi juga teladan etika kemanusiaan. Moto hidup yang terus ia rawat berbunyi tegas: “Ciptakanlah ruang-ruang pengetahuan sehingga kamu kaya akan gagasan dan pemikiran, bukan ruang dogmatisme yang membuat otak beku dan mengkerdilkan rasionalitas.”
Gagasan-gagasannya banyak dituangkan dalam artikel-artikel yang terbit di berbagai media daring, seperti Alif.ID, Kumparan, Geotimes, Mengeja Indonesia, Rumah KitaB, Literasi Masjid Jenderal Sudirman, Netralnews.com, Nusantara Institute, Nidaul Qur’an, hingga Mojok. Lewat tulisan-tulisan tersebut, ia secara konsisten menyoroti beragam isu, mulai dari pendidikan, keislaman, dan sosial-budaya, sekaligus menanggapi problematika masyarakat modern serta dinamika sosial-keagamaan yang berkembang di era digital.
Artikel-artikelnya antara lain berjudul: Menyelami Pemikiran Islam Mazhab Kritis: Al-Jabiri, Arkoun, dan Hassan Hanafi (Alif.ID, 9 November 2023), Gus Dur dan Teologi Pembebasan (Alif.ID, 20 November 2023), Gus Dur Sang Humanis (Kumparan, 11 Maret 2024), Menggagas Pendidikan Agama Islam Berwawasan Pluralisme (Kumparan, 14 Maret 2024), Mazhab Frankfurt dan Red Army Faction (Mengeja Indonesia, 25 Maret 2024), Rekonstruksi Kritik Nalar Arab-Islam Al-Jabiri dan Arkoun (Geotimes, 26 Maret 2024), Agama di Era Digital Ala Mohammed Arkoun (Rumah KitaB, 16 September 2025), Fikih yang Menyapa Realitas: Menggali Teologi Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh (Literasi Masjid Jenderal Sudirman, 06 Oktober, 2025), Membaca Krisis Lingkungan dari Kacamata Kritik Nalar Muhammad Abed Al-Jabiri (Literasi Masjid Jenderal Sudirman, 13 Januari 2026), Gus Dur dan Paradigma Baru Pendidikan Pesantren (Netralnews.com, 23 Januari 2026), Di Balik Bumbu Tempe: Membaca Budaya dalam Sate Ambal, Kebumen (Nusantara Institute, 02 Februari 2026), Satu Abad NU: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia (Nidaul Qur’an, 03 Februari 2026), serta Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium (Mojok, 16 Februari 2026), dan beberapa artikel lainnya.
Selain aktif menulis artikel, Akrom juga menghasilkan sejumlah karya buku yang merefleksikan konsistensinya dalam mengkaji isu-isu pendidikan Islam serta mengembangkan wacana keislaman secara kritis dan berkelanjutan. Karya-karyanya antara lain berjudul: Pendidikan Islam Pluralis; Ulasan Pemikiran Gus Dur (Literasi Nusantara Abadi, 2022), Pergolakan Pemikiran Islam di Indonesia (Literasi Nusantara Abadi Grup, 2023), Ideologi, Paradigma, dan Nalar Pendidikan Islam; Wacana Ilmu Pendidikan Islam Teoretis dan Praktis (Literasi Nusantara Abadi Grup, 2023), Pemikiran Islam Mazhab Kritis; Muhammad Abed Al-Jabiri, Mohammed Arkoun, dan Hassan Hanafi (Literasi Nusantara Abadi Grup, 2023), dan Model Pendidikan Agama Islam Berwawasan Pluralisme (Literasi Nusantara Abadi Grup, 2024).
Saat ini, Mizanul Akrom menetap di Kampung halamannya, yaitu di Dukuh Kauman Desa Ambarwinangun Kecamatan Ambal. Ia dapat dihubungi melalui surel (akrom.mizan@gmail.com), serta media sosial Facebook dan YouTube (Mizanul Akrom), Instagram (mizanul_akrom), dan blog (akrommizan.blogspot.com).