Prawacana
Ada yang
mengatakan, belajar filsafat diumpamakan dengan berpariwisata. Ungkapan ini
dapat dibenarkan, karena berfilsafat berarti kita sedang memasuki dunia
pemikiran baru atau dunia gagasan baru yang belum kita kenal. Sama halnya
dengan wisatawan, ia ingin keluar dari rutinitas keseharian dan keluar dari
hingar-bingar perkotaan yang bising, menjenuhkan, bosan dengan banyaknya jalan
beton dan aspal di kota tempat tinggalnya, dengan mencari dan menikmati
pemandangan alam baru yang mempertunjukkan sawah yang hijau permai, gunung yang
berselimutkan hutan lebat, laut biru tua dengan pantai putih bersih, dan pulau
kecil yang disinari cahaya pagi matahari nan sejuk. Pengalaman dan pengamatan
secara langsung dari wisatawan tentang keindahan dan kekayaan alam tersebut,
walapun hanya beberapa hari, namun memberi makna dan penyegaran kembali bagi
pikiran, sehingga ia sesampai di rumah dapat menghadapi kembali tugas-tugas
harian dengan segar dan penuh energi baru.
Pengalaman wisatawan tersebut serupa dengan belajar
filsafat. Perbedaannya hanya terletak pada objek pengalamannya, yang mana dengan
belajar filsafat kita tidak berkenalan dengan keindahan alam atau kondisi
alam-dunia lain, melainkan kita memasuki dunia pemikiran baru, dunia gagasan
baru, dan untuk memperluas wawasan kita, sehingga kita dapat berkenalan dengan
banyak ide, gagasan yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Karena filsafat
merupakan studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara
kritis yang dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan
melakukan eksperimen atau percobaan-percobaan, akan tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Konteks filsafat pendidikan merupakan
cabang dari beberapa cabang dalam filsafat, karenanya antara keduanya tidak
bisa dipisahkan.
Filsafat pendidikan sebagai ilmu filsafat yang mempelajari
hakekat pelaksanaan dan pendidikan. Bahan yang dipelajari meliputi tujuan,
latar belakang, cara, hasil dan hakekat pendidikan. Sedangkan metode yang
dilakukan adalah dengan menganalisis secara kritis struktur dan manfaat
pendidikan, selain filsafat pendidikan juga memandang bahwa kegiatan pendidikan
sebagai objek yang dikaji baik secara ontologis, epistemologis maupun
aksiologis.
Definisi Filsafat
Apa itu filsafat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk
dijawab. Seorang ahli filsafat pun akan mengalami kesulitan jika ditodong oleh orang
awan atas pertanyaan itu. Mengapa seorang filsuf merasa bingung atas pertanyaan
semacam itu? Tentu saja bukan karena ia tidak tahu apa itu filsafat, melainkan
karena ia tidak bisa jelaskan kepada orang yang tetap tinggal di luar alam pikiran
filsafat. Karena orang yang ingin tahu dan paham apa itu filsafat maka ia harus
terjun langsung di dalamnya dan mencarinya sendiri. Mudahnya, untuk mengetahui
filsafat ia harus memasuki wilayah ilmiah di dalamnya dan mengalaminya sendiri.
Jika kita ingin memasuki wilayah filsasat, langkah
pertamanya adalah dengan memandang kata filsafat secara etimologi. Dengan
etimologi di sini dimaksudkan untuk mencari akar dan arti kata menurut
asal-usulnya. Kata filsafat (Inggris: philosophy) berasal dari bahasa Yunani.
Kata ini berasal dari kata ‘philosophia’,
yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata ‘philos’ yang berarti cinta, senang, suka, dan kata ‘sophia’ yang berarti pengetahuan,
hikmah, kebijaksanaan. Karena itu, philosophia
berarti mencintai kebijaksanaan, dan philoshopos
(filsuf) adalah pecinta kebijaksanaan. Dengan demikian dapat ditarik pengertian
bahwa filsafat adalah cinta pada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka pada
hikmah dan kebijaksanaan. Karenanya, orang yang berfilsafat berarti orang yang
mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
Dalam pengertian yang lebih luas, filsafat adalah
sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya
diterima secara kritis. Filsafat ialah suatu proses kritik atau pemikiran
terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. Filsafat diartikan
juga sebagai usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan, analisis logis dari
bahasan dan penjelasan tentang arti konsep. Lebih dalam lagi, filsafat ialah
sekumpulan problem-problem yang langsung mendapat perhatian manusia dan
dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.
Filsafat sebagai pandangan yang menyeluruh dan
sistematis. Menyeluruh, karena filsafat bukan hanya pengetahuan, melainkan juga
sebagai pandangan yang dapat menembus sampai di balik pengetahuan itu sendiri.
Dengan pandangan yang lebih terbuka ini, hubungan dan pertalian antara semua
unsur yang mengarahkan perhatian dan kedalaman mengenai kebajikan dimungkinkan
untuk dapat ditemukan. Sistematis, karena filsafat menggunakan berfikir secara
sadar, teliti dan teratur sesuai dengan hukum-hukum yang ada.
Karena itu, filsafat berarti berfikir menurut tata tertib (logika), bebas
(tidak terikat pada tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya, sehingga
sampai ke dasar-dasar persoalan.
Begitupun juga, berfikir secara spekulatif termasuk dalam
rangkaian berfikir filsafat. Maksud berfikir spekulatif adalah berfikir dengan
cara merenung, memikirkan segala sesuatu sedalam-dalamnya tanpa keharusan
adanya kontak langsung dengan objek sesuatu tersebut. Tujuannya adalah untuk
mengerti hakekat sesuatu.
Karena pemikiran-pemikiran yang bersifat filsafat didasarkan atas pemikiran
yang bersifat spekulatif, maka nilai-nilai kebenaran yang dihasilkannya pun tak
terhindarkan dari kebenaran yang spekulatif. Hasilnya akan sangat bergantung pada
pandangan filosof yang bersangkutan. Karenanya, pendapat yang baku dan diterima
oleh semua orang akan sulit diwujudkan. Padahal, kebenaran yang ingin dicapai
oleh filsafat ialah kebenaran yang bersifat hakiki, hingga nilai kebenaran
tersebut dapat dijadikan pandangan hidup manusia.
Mengingat dominasi penggunaan nalar manusia dalam
berfilsafat, maka kebenaran yang dihasilkannya pun didasarkan atas penilaian
kemampuan maksimal menurut nalar manusia. Namun karena nalar manusia bersifat
terbatas, maka kebenaran yang didapat bersifat spekulatif. Dalam kaitan ini, maka
filsafat di sini adalah suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat
luas (komprehensif). Ini artinya bahwa filsafat itu menjangkau semua persoalan
dalam daya kemampuan pikiran manusia dengan mencoba mengerti, menganalisis,
menilai dan menyimpulkan semua persoalan-persoalan secara mendalam.
Meskipun kesimpulan-kesimpulan filsafat bersifat hakiki,
tetap saja ia masih relatif dan subjektif. Kedua sifat inilah merupakan sifat
alamiah (kodrati) pada subjek yang melakukan aktivitas filsafat itu sendiri,
yaitu manusia. Manusia dalam proses perkembangan—baik jasmani dan rohani—cenderung
memiliki watak subjektivitas, karena itu kesimpulan-kesimpulan yang dilahirkan
pun bersifat subjektif. Faktor-faktor inilah yang melahirkan aliran-aliran
filsafat dan perbedaan-perbedaan dalam filsafat.
Dengan demikian, kebenaran filsafat adalah kebenaran yang
relatif. Artinya, kebenaran itu selalu mengalami perkembangan sesuai dengan
perubahan zaman dan peradaban manusia. Bagaimanapun, penilaian tentang suatu
kebenaran yang dianggap benar itu masih tergantung pada ruang dan waktu. Apa
yang dianggap benar oleh masyarakat atau bangsa lain, belum tentu akan dinilainya
sebagai kebenaran oleh masyarakat atau bangsa lain. sebaliknya, sesuatu yang
dianggap benar oleh suatu masyarakat atau bangsa dalam suatu zaman akan berbeda
pada zaman berikutnya.
Jadi, filsafat adalah ilmu pengetahuan komprehensif yang
berusaha memahami persoalan-persoalan yang timbul di dalam keseluruhan ruang
lingkup pengalaman manusia. Dengan demikian, diharapkan agar manusia dapat
mengerti dan memiliki pandangan yang menyeluruh dan sistematis mengenai alam
semesta dan tempat manusia di dalamnya. Filsafat dibutuhkan oleh manusia adalah
dalam upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai
lapangan kehidupan manusia. Jawaban atas pertanyaan itulah merupakan hasil
pemikiran yang sistematis, integral, menyeluruh dan mendasar. Karenanya,
pemikiran yang bersifat filosofis setidaknya memiliki ciri-ciri yang jelas,
yakni tertuju pada upaya untuk mengadakan pemeriksanaan dan penemuan, di
samping berfikir filosofis juga adalah berfikir radikal dengan menggunakan
kemampuan yang optimal dari akal budi manusia.
Definisi Pendidikan
Secara alamiah, manusia dalam pertumbuhan dan
perkembangannya mengalami proses tahap demi tahap
sejak dalam kandungan sampai meninggal. Demikian halnya kejadian alam semesta
ini, diciptakan Tuhan melalui proses setingkat demi setingkat. Sedangkan pola
perkembangan manusia dan kejadian alam semesta yang berproses tahap demi tahap
ini berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan Tuhan sebagai sunnatullah (natural law). Pendidikan adalah sebagai
proses, yaitu proses usaha sadar dalam membina dan mengembangkan pribadi
manusia, unsur jasmani maupun rohani, yang berlangsung secara bertahap menuju kematangan
hidup, dan bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan atau pertumbuhan
manusia menuju pribadi yang bulat dan utuh baik secara intelektual, moral dan
spiritual.
Secara etimologi, pendidikan berasal dari bahasa Yunani ‘paedagogike’, merupakan kata majemuk
yang terdiri dari kata ‘paes’ yang
berarti anak, dan kata ‘ago’ yang
berarti aku membimbing. Jadi, paedagogike
berarti aku membimbing anak. Orang yang pekerjaannya membimbing anak, dengan
maksud membawanya ke tempat belajar, yang dalam bahasa Yunani disebut ‘paedagogos’. Jika kata ini diartikan
secara simbolis, maka perbuatan membimbing ini merupakan inti dari perbuatan
mendidik yang tugasnya hanya untuk membimbing saja, kemudian melepaskan anak
itu untuk kembali ke masyarakat.
Selain itu, secara bahasa pendidikan berasal dari kata dasar ‘didik’, mendapat
awalan ‘men’ kemudian menjadi ‘mendidik’, yang berarti memelihara dan memberi
latihan (ajaran). Sedangkan pendidikan sebagai kata benda, berarti proses perubahan sikap
dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan
dirinya melalui upaya pengajaran dan latihan.
Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya pribadi
manusia yang utama dan ideal, yakni pribadi manusia yang memiliki kesadaran
moral dan sikap mental secara teguh dan sungguh-sungguh memegang dan
melaksanakan ajaran atau prinsip-prinsip nilai (filsafat) yang menjadi
pandangan hidup secara individu, masyarakat maupun filsafat bangsa dan negara. Pendidikan
juga diartikan sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, yang
menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya rasa (emosi) manusia. Dalam
hubungan ini, sehingga pendidikan merupakan suatu usaha dalam mengubah tingkah
laku individu dalam kehidupan pribadinya sebagai bagian dari kehidupan
masyarakat dan kehidupan alam sekitarnya.
Sedangkan pengertian pendidikan dalam arti yang luas adalah
sebagai perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan,
pengalaman, kecakapan dan keterampilannya kepada generasi muda agar mereka
dapat memahami fungsi hidupnya, baik jasmani maupun rohani. Upaya ini
dimaksudkan agar dapat meningkatkan kedewasaan dan kemampuan anak untuk memikul
tanggungjawab moral dari segala perbuatannya. Jadi, proses pendidikan adalah
proses perkembangan yang memiliki tujuan, yakni menuju kedewasaan dan
kematangan kepribadian manusia. Dengan demikian jelaslah bahwa pengertian
pendidikan erat kaitannya dengan masalah yang dihadapi dalam kehidupan manusia.
Dari beberapa uraian penjelas di atas, pendidikan dapat diartikan
sebagai suatu proses usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya
dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta
dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya mereka menjadi
manusia yang sadar dan bertanggungjawab akan tugas-tugasnya sebagai manusia,
sesuai dengan sifat hakiki dan ciri-ciri kemanusiaannya. Dengan kata lain,
proses pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing dan mengarahkan potensi
hidup manusia yang berupa kemampuan dasar dan kehidupan pribadinya sebagai
makhluk individu dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitarnya agar
menjadi pribadi yang bertanggungjawab.
Definisi Filsafat Pendidikan
Dalam memahami apa pengertian dari filsafat pendidikan,
maka dapat digunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan tradisional dan
pendekatan kritis. Pertama, filsafat
pendidikan dalam arti tradisional adalah filsafat pendidikan dalam bentuk yang
murni. Pendekatan ini telah berkembang dengan menghasilkan berbagai alternatif
jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan filosofis yang diajukan dalam bidang
pendidikan; yang jawabannya terdapat dalam berbagai aliran filsafat pendidikan.
Kedua, pendekatan pemikiran kritis, yang
mana dalam pendekatan ini pertanyaan yang diajukan dapat disusun dan tidak
terikat oleh periode waktu, serta dapat menerapkan analisis yang dapat
menjangkau waktu kini maupun yang akan datang.
Analisis yang digunakan dengan dua cara,
yaitu analisa bahasa (linguistik) dan analisa konsep. Analisa bahasa adalah
usaha untuk mengadakan interpretasi yang menyangkut pendapat mengenai makna.
Analisa bahasa sangat diperlukan untuk mennghasilkan tinjauan yang mendalam.
Sedangkan analisa konsep adalah suatu analisa mengenai gagasan atau konsep. Jawaban-jawaban
dalam analisa-konsep tersebut berbentuk definisi-definisi yang diungkapkan oleh
tokoh-tokoh.
Filsafat pendidikan adalah aktivitas
pikiran yang teratur dan menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur,
menyelaraskan dan memaduan proses pendidikan. Artinya bahwa filsafat pendidikan
dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat yang diupayakan untuk mencapainya.
Dalam hal ini yaitu filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman kemanusiaan
merupakan faktor yang integral. Filsafat pendidikan juga dapat didefinisikan
sebagai kaidah filosofis dalam bidang pendidikan yang menggambarkan aspek-aspek
pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip
dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan
persoalan-persoalan pendidikan secara praktis. Filsafat pendidikan merupakan
ilmu yang pada hakekatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam
bidang pendidikan. Baginya, filsafat pendidikan merupakan aplikasi dari suatu
analisis filosofis terhadap pendidikan.
Intinya bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat yang
memikirkan tentang masalah pendidikan, atau filsafat pendidikan juga diartikan
sebagai teori pendidikan. Filsafat pendidikan juga diartikan sebagai ilmu yang
pada hakekatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan,
sehingga filsafat pendidikan di sini merupakan aplikasi dari suatu analisa
filosofis terhadap bidang pendidikan.
Dengan demikian, filsafat pendidikan dapat dipahami
sebagai aplikasi filsafat dalam pendidikan, juga dapat dimengerti sebagai berpikir
secara radikal, sistematis dan universal tentang pendidikan. Kedua pengertian
itu dapat dipakai, karena keduanya (filsafat maupun pendidikan) memiliki
otonomi. Mengapa disebut otonom, karena keduanya memiliki objek kajian dan
penelaahan masing-masing, serta dari masing-masing kuduanya juga memiliki
sistematika tersendiri.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan
Secara makro (umum), apa yang menjadi objek pemikiran
filsafat adalah ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam
semesta dan alam sekitarnya. Ini semua juga merupakan objek pemikiran filsafat
pendidikan. Akan tetapi secara mikro (khusus), yang menjadi ruang lingkup
filsafat pendidikan, meliputi: (1) hakekat
pendidikan (The Nature Of Education); (2) hakekat manusia sebagai subjek
dan objek pendidikan (The Nature Of Man); (3) hubungan antara filsafat,
filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan; (4) hubungan antara filsafat,
filsafat pendidikan, dan teori pendidikan; (5) hubungan antara negara (ideologi),
filsafat pendidikan, dan politik pendidikan (sistem pendidikan); dan, (6) sistem
nilai, norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pedidikan.
Dengan demikian, ruang lingkup filsafat pendidikan adalah
semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami
hakekat pendidikan. Tentunya yang berhubungan dengan bagaimana melaksanakan
pandidikan yang baik dan bagaimana pula tujuan pandidikan itu dapat dicapai
atau yang di cita-citakan. Untuk menjawab itu semua diperlukan filsafat dalam
pendidikan, karena keberadaan filsafat berbeda dengan ilmu. Ilmu ingin
mengetahui sebab dan akibat dari sesuatu. Sementara filsafat tidak terikat pada
suatu ketentuan atau tidak mau terkurung hanya pada ruang dan waktu dalam
pembahasan dan penyelidikannya tentang hakekat sesuatu yang menjadi objek dan
materi bahasannya.
Berbicara tentang filsafat sebagai ilmu yang mempelajari
objek dari segi hakekatnya, di dalamnya memiliki beberapa problema pokok. Pertama, realita. Yakni, kenyataannya yang selanjutnya
mengarah pada kebenaran, akan muncul jika orang mampu mengambil suatu konklusi
bahwa pengetahuan yang diperoleh tersebut memang nyata. Kedua, pengetahuan. Yakni, yang menjawab
pertanyaan-pertanyaan, misalnya apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan
menangkap pengetahuan tersebut, dan jenis-jenis pengetahuan. Ketiga, nilai, yang dipelajari oleh filsafat
disebut asksiologi. Pertanyaan-pertanyaan yang dicari jawabannya, misalnya
nilai yang bagaimana yang diinginkan manusia sebagai dasar hidupnya.
Selanjutnya, dalam pengembangan konsep-konsep pendidikan
dapat digunakan sebagai dasar dari hasil-hasil yang diperoleh dari
cabang-cabang di atas. Lebih penting lagi, dalam menyelenggarakan pendidikan
perlu mengetahui bagaimana pandangan dunia terhadap pendidikan yang diperlukan
masyarakat pada masanya. Hal ini merupakan kajian metafisika, demikian halnya
dengan keberadaan epistemologi, aksiologi dan logika dalam dunia pendidikan,
tentunya memberi konstribusi yang besar.
Sebagaimana filsafat umum, filsafat pendidikan juga
memiliki beberapa sumber, yaitu manusia (people). Manusia kebanyakan
mengalami kesulitan-kesulitan dalam proses pendewasaan atau kematangan.
Selanjutnya adalah sekolah. Pengalaman seseorang, jenis sekolah, dan guru-guru
di dalamnya merupakan sumber-sumber pokok dari filsafat pendidikan. Terakhir
adalah lingkungan (environment). Lingkungan sosial budaya tempat
seseorang tinggal dan dibesarkan adalah sumber yang lain dari filsafat
pendidikan.
Filsafat pendidikan, sesuai dengan peranannya merupakan
landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijakan dan pelaksanaan pendidikan.
Sedangkan filsafat, dengan cara kerjanya yang bersifat sistematis, universal
dan radikal, yang mengupas dan menganalisis sesuatu secara mendalam, ternyata
sangat relevan dengan problema matematika hidup dan kehidupan manusia, serta
mampu menjadi perekat kembali antara berbagai macam disiplin ilmu yang
berkembang saat ini. Sehingga filsafat pendidikan akan menemukan relevansinya
dengan hidup dan kehidupan masyarakat dan akan lebih mampu lagi meningkatkan
fungsinya bagi kesejahteraan hidup manusia.
Dengan demikian, hubungan filsafat dan filsafat
pendidikan menjadi begitu penting. Karena masalah pendidikan merupakan masalah
hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama
proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia. Dalam konteks ini, filsafat
pendidikan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, menyangkut seluruh aspek
hidup dan kehidupan manusia.
Dari uraian di atas dapat diambil suatu konklusi bahwa
filsafat adalah studi kritis tentang masalah-masalah kehidupan yang dilakukan
untuk mencari jalan keluar yang lebih baik tentang bagaimana menangani masalah
tersebut. Dalam hal ini, filsafat bertujuan untuk memberikan jawaban yang lebih
dapat diterima tentang konsep-konsep hidup yang meliputi suatu kehidupan yang
ideal dan lebih mendasar.
Konklusi
Filsafat berarti mencintai kebijaksaan, sejalan dengan
itu sehingga filsafat mengharuskan berfikir secara mendasar dan mendalam agar
bisa mencapai derajat kebijaksaan tertinggi. Dan akibat daripada keharusan
berfikir secara mendasar dan mendalam, maka filsafat sangat diperlukan
pendidikan untuk memberikan pandangan yang berbeda atau bahkan kritik terhadap
perjalanan pendidikan. Kritik dari filsafat itulah yang diharapkan akan mampu
membenahi dan menyempurnakan setiap aspek pendidikan. Kritik filsafat atas
pendidikan sangatlah berharga karena menyapaikan hal-hal mendasar dan mendalam kaitan
semua unsur pendidikan, sehingga pendidikan akan mengetahui pandangan dunia terhadap
pendidikan yang diperlukan masyarakat pada masanya. Mudahnya, kritik filsafat atas
pendidikan selalu akan membangun dan selalu berusaha menyajikan pendidikan untuk
menjadi lebih baik dan kembali pada hakekatnya.