Sunday, May 24, 2020

LEBARAN 1441 H YANG DILEMATIS

LEBARAN 1441 H YANG DILEMATIS
Setelah sebulan melaksanakan ibadah puasa sebagai bentuk manifestasi ketaatan dan kepatuhan kita karo sing gawe urip "Sang Ilahi Rabbi", kehadiran idul fitri merupakan pesta kemenangan yang pantas untuk kita syukuri dan rayakan.

Namun, karena keadaan di mana virus koronah sedang menjadi hantu gentayangan dalam pergumulan masyarakat, tentu ada kekhawatiran jika suasana idul fitri atau lebaran, menjadi momok menakutkan jika berjalan seperti tradisi selama ini, saling berkunjung dan berkumpul keluarga besar, akan berpotensi penyebaran virus koronah.

Dengan kondisi kuatnya tradisi masyarakat kita, mungkinkah idul fitri atau lebaran kali ini meminimalkan atau bahkan tak menerima tamu di rumah?

Tak bisa dipungkiri bahwa menolak kunjungan tamu ke rumah, baik itu saudara atau tetangga akan sulit dilakukan, apalagi masyarakat kita, khususnya Jawa, memiliki rasa 'pakewuh' atau 'sungkan' yang tinggi.

Saya sependapat bahwa nguri-uri tradisi adalah bagian dari usaha kita untuk mempertahankannya, tentunya tradisi-budaya luhur yang ada di masyarakat, seperti tradisi "Sungkem" dan "Halal bi Halal" antar keluarga dan tetangga saat lebaran, dan pernak-pernik nuansa lebaran yang menarik lainnya. Tujuannya jelas, agar tradisi-budaya itu tetap lestari dan bertahan hingga anak cucu kita.

Tapi hari ini, virus koronah masih menjadi momok menakutkan, karena gejala positifnya kian hari kian bertambah. Kita tidak boleh panik, bukan berarti mengesampingkannya, sekalipun suasana lebaran kita harus tetap waspada dengan mengikuti protokol kesehatan.

Yah... lebih kurangnya begitulah suasana lebaran tahun ini. Suatu nuansa perayaan lebaran, jika boleh dikatakan, dengan suasana yang cukup dilematis. Mengapa dilematis? Karena lebaran tahun ini kita di sedang dihantui oleh pandemi virus koronah yang 'nggateli', dan merayakan hari raya idul fitri yang seharusnya disambut dengan suasana riang gembira dan penuh kebersamaan.

Perlu diingat bahwa perayaan idul fitri atau lebaran adalah pesta kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu, dan keberhasilan melaksanakan perintah puasa ramadhan sebagai bentuk manifestasi kepatuhan kita pada Ilahi. Hari raya idul fitri juga sebagai acara keagamaan sekaligus perayaan sosial. Prinsipnya bukan pada 'bersalaman' atau 'berpelukan', namun yang utama adalah rasa 'penghormatan' dan 'saling memaafkan'.

Sehingga, hari raya idul fitri dengan ucapan "minal aidin wal faizin" baru mempunyai makna dan signifikansi bagi mereka yang 'puasa temenan' bukan 'puasa lemboan', sehingga pantas memperoleh predikat sebagai golongan orang yang menang dan mampu membuat transformasi hidup ke tingkat yang lebih baik, dan senantiasa menyebarkan kebajikan bagi sesama, terurama di saat pandemi virus koronah saat ini.[]

Tuesday, April 28, 2020

AWAL MULA BERKENALAN DENGAN TEORI MARXISME

AWAL MULA BERKENALAN DENGAN TEORI MARXISME
Kehidupan hari ini dirasa sangatlah tak menentu. Suatu proses hidup manusia yang bisa dikatakan sedang mengalami bipolaritas antara rasa ketakutan dan kebahagiaan. Ketakutan dirasakannya, karena lebih kurang hampir dua bulan lamanya bangsa ini diliputi oleh rasa kesedihan, yaitu dengan mewabahnya virus korona yang semakin hari semakin bertambah dan menggerogoti masyarakat bangsa ini. Sebaliknya, kebahagiaanpun dirasakan sebagian manusia yang bisa memanfaatkan waktunya untuk produktifitas berfikir bagi otaknya, karena banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan buah karya dan ide pemikiran di sela-sela waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah.

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan menyoroti lebih jauh kaitan dengan virus korona, karena dalam pikiran saya bahwa virus ini pasti akan berlalu. Tinimbang pikiran ini habis hanya untuk menimbang kesedihan tentang negatifitas virus korona, alangkah baiknya saya habiskan untuk membangun produktifitas berfikir, sembari menjaga diri dan keluarga dengan menerapkan pola hidup sehat dan penuh kehati-hatian dan selalu berusaha memutus mata rantai penyebaran virus korona di lingkungan sekitar dan kehidupan.

Baik lah, saya mulai dari flash back ke belakang tentang kehidupan saya saat di mana saya dulu masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Prodi PAI di kampus IAINU (dulu STAINU) Kebumen, dan aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kebumen. Di PMII inilah minat pengetahuan saya akan ilmu-ilmu sosial dan keagamaan bersemi, sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang saya pelajari di kampus.

Masa-masa itu pula, di internal PMII minat intelektual sedang mengalami pasang naik. Namun saya pribadi lebih mengarahkan diri berkecimpung pada penguatan militansi intelektual, dan memerankan diri membangun pengkaderan PMII yang terfokus pada diskusi kultural yang mengarah pada disiplin pengetahuan, sehingga perlahan-lahan saya mulai meminati ilmu-ilmu sosial. Pada saat bersamaan, pelan-pelan juga mulai muncul kritik-kritik terhadap masalah ketimpangan sosial di masyarakat. Saya berusaha memahami mengapa ketimpangan itu muncul? dan mengapa di tengah-tengah gegap gempita perputaran roda pembangunan, ada begitu banyak orang yang tertinggal di belakang dan hidup bertungkus-lumus dalam kemiskinan?

Persis di momen itulah, sekitar tahun 2011 saya bertemu dengan Sahabat PMII sekaligus guru saya, Nur Sayyid Santoso Kristeva atau yang lebih akrab di telinga kader PMII dengan sapaan Bung Kris. Padanya, saya mendapat penjelasan yang lebih memuaskan akan masalah-masalah sosial yang dilahirkan oleh apa yang disebut filsuf Walter Benjamin sebagai “angin puyuh kemajuan”, dan juga pemujaan akan hal-hal yang bersifat bendawi seperti uang, jalan-jalan licin ber-aspal, kuda-kuda besi yang menindih jalan ber-aspal itu, rumah-rumah besar nan mentereng dan gedung-gedung tinggi yang ujungnya seperti hendak meninju atap langit.

Mendengarkan penjelasan Bung Kris dulu di sela-sela diskusi kultural, ia menuturkan secara rinci bahwa masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, ketimpangan sosial dan pelanggaran hak asasi manusia adalah produk dari ideologi pembangunanisme yang dianut oleh rezim Orde Baru. Orang menjadi miskin bukan karena ia malas, bodoh, atau karena tidak memiliki hasrat untuk berprestasi. Ia miskin karena kondisi-kondisi struktural yang melingkupinya. Mulai dari pendidikan yang mahal, lapangan pekerjaan yang terbatas, upah yang sangat rendah, serta korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela di tingkatan elite. Pada intinya bahwa dalam kasus ini, kita tidak boleh gegabah menyalahkan si miskin atas kemiskinan yang dialaminya.

Tentu argumentasi dari Bung Kris itu berdasar, tidak serta merta tanpa tumpuan teori ilmiah yang kuat. Karena menurutnya, solusi untuk terentas dari kemiskinan itu adalah mengubah struktur yang membuat seseorang itu menjadi miskin. Ia tidak percaya bahwa si miskin bisa terentas dari kemiskinannya dengan mengubah gaya hidup. Misalnya, dengan kesadaran magis yang out put-nya lebih pada bersabar (takdir orang sudah ditentukan sejak sebelum ia lahir), atau kesadaran naif yang diluapkan pada kesadaran untuk berhemat (berhenti merokok, misalnya), harus bisa menabung, dan seterusnya.

Lalu struktur apa yang menyebabkan kemiskinan itu? Struktur kapitalisme jawabnya, dan karenanya kapitalisme ini harus diubah menjadi sosialisme. Itulah jawaban yang meyakinkan dari Bung Kris, karena memang beliau bisa dikatakan sebagai sosok seorang pemikir yang menggandrungi pemikiran dan teori Marxisme, yang karena itu salah satu dari karyanya mengupas tuntas konsep pemikiran Marxisme; "Negara Marxis dan Revolusi Proletariat".

Dengan membaca sebagian dari karya beliau, kemudian saya mulai memahami bahwa kemiskinan struktural itu akan lebih mudah dan komprehensif dipahami jika menggunakan perangkat teori Marxisme.

Dari sini lah kemudian saya temukan sumbangsih Bung Kris buat pribadi saya, dan beliau lah yang pertama kali mempertemukan saya dengan khazanah pengetahuan Marxis. Dari nya, saya mengetahui teori ketergantungan (dependency theory) dan teori sistem dunia (world system theory) dan seterusnya. Kelak kemudian saya ketahui bahwa dalam khazanah pengetahuan Marxis, teori ‘Ketergantungan’ dan teori ‘Sistem Dunia’ ini masuk dalam kategori pemikiran Neo-Marxis.

Mungkin sebagian dari kader PMII hari ini yang menganggap saya itu berlebihan mengungkapkan narasi ini. Tapi memang benar adanya, bahwa Bung Kris sebagai satu-satunya Sahabat PMII sekaligus guru saya yang mengajarkan tentang teori-teori sosial, baik secara langsung, yaitu melalui berbagai kesempatan pelatihan-pelatihan yang pernah diadakan di PMII cabang Kebumen, serta dibeberapa hasil karyanya beliau dalam bentuk buku maupun file PDF yang pernah saya baca.

Memang, Bung Kris bisa dikatakan tidak menciptakan sebuah teori baru tentang Marxisme, ia lebih berperan sebagai pembawa dan penyebar gagasan yang mumpuni. Artinya bahwa Bung Kris telah membawa dan membangun sebuah teori dalam kajian keilmuan di PMII Kebumen melalui teori-teori Marxis, sehingga hasil racikan pemikiran dan teori Marxisme yang ditawarkan beliau, bisa dibaca lebih baik dan mudah oleh kader-kader PMII Kebumen, termasuk saya sendiri di dalamnya.

Pergumulan intelektual melalui berbagai kesempatan pelatihan yang diadakan di PMII Kebumen, tentu berdampak suatu pergeseran paradigma bagi kader. Salahsatunya adalah minat kader dalam berselancar dan menggandrungi teori-teori kritis. Tentunya juga berimbas pula pada minat dan semangat kader PMII kebumen untuk menelaah berbagai disiplin keilmuan yang berbau kritis, termasuk di dalamnya kajian kritis dalam nuansa pemikiran keislaman hingga kajian pendidikan dalam nuansa kajian pendidikan kritis transformatif.

Secara tidak langsung, ini menjadi angin segar dalam kajian keilmuan bagi PMII kebumen, karena ketiadaan pengajaran Marxisme di kampus dan absennya diskusi-diskusi Marxisme dan diskusi kajian pemikiran kritis yang terbuka di publik menyebabkan teori-teori Marxis dan kajian teori kritis itu begitu mudah merasuki alam pikiran aktivis atau kader PMII Kebumen.

Terlihat di beberapa kader PMII kebumen (tidak semua kader memang) hingga hari ini yang benar-benar menaruh minat serius pada kajian Marxis dan kajian teori kritis. Baik kader Rayon baru di IAINU kebumen, kader Komisariat, dan beberapa kader Cabang PMII Kebumen yang kembali membaca secara serius karya-karya Marx, mulai dari karya Marx di masa muda hingga Marx tua. Dapat saya saksikan juga yang terlintas di beberapa media-media on line, beredar artikel ilmiah dari salah satu kader PMII Kebumen yang mengupas tentang Marxisme. Tentu ini adalah sebagai salah satu bentuk dan upaya Kader PMII Kebumen untuk mengenal lebih dekat dengan pemikiran dan teori-teori Marxisme, yang berlanjut juga pada kajian pemikiran kritis dalam pusaran pengkaderan PMII cabang Kebumen.[]
***
Catatan ringan pasca Shalat Tarawih Form Home


Sunday, March 29, 2020

MENGENAL FILSAFAT NIETZSCHE

MENGENAL FILSAFAT NIETZSCHE

Filsafat Nietzsche sebenarnya adalah upaya Nietzsche atas kritik pedasnya pada optimisme murahan zaman modern yang percaya dan yakin bahwa manusia-manusia modern pasti akan meraih apa yang diharapkan dan direncanakan, serta memperoleh pembebasan, pencerahan, dan rasionalitas yang mereka cita-citakan. Akan tetapi dalam kenyataannya tidaklah terbukti, justru manusia modern terjungkir kembali ke dalam apa yang hendak dijauhi dan disingkirkannya.

Nietzsche adalah seorang filosof sekaligus seniman, dan ia tergolong filsuf eksistensialisme yang memiliki metode kritis untuk membobol pandangan moralitas zaman modern, sehingga kita bisa menemukan substansi kritik yang dilancarkan oleh Nietzsche. Jika sekarang kita mengenal post modernisme, yang merupakan kritik atas modernisme dalam kajian filsafat, namun jauh-jauh hari Nietzsche sudah menguliti habis-habisan modernisme dengan gaya filsafatnya dalam satu target yang tegas, yakni mendobrak kedok segala yang diagungkan dalam kebudayaan Barat yang menjadi dekadensi.

Dalam hal ini, Nietzsche sebenarnya bukan hanya pendahulu dari pemikiran post modernisme, namun juga sebagai peramal yang ramalannya dengan jitu telah menjadi kenyataan sekarang ini. Dengan alasan inilah kemudian mengapa pemikiran Nietzsche masih relevan untuk kita kupas dan pelajari dalam diskursus filsafat zaman ini.

Sebagai seorang filosof, Nietzsce tidak pernah berhenti mencari apa yang sudah diperolehnya itu untuk direfleksikannya kemudian diungkapkannya lagi dan lagi, sampai mencuat nuansa-nuansa baru yang tak terduga. Ketakterdugaannya itu lahir bukan sebagai sesuatu yang tadinya terpendam dan kemudian muncul, akan tetapi sesuatu yang baru yang benar-benar bisa muncul hanya karena suatu pencarian kreatif seseorang yang tak pernah mau menyerah pada forma apapun yang telah ada atau yang telah diraihnya.

Dalam bukunya, Jenseits vom Guten und Bosen (Melampaui Baik dan Buruk), misalnya, Nietzsche berbicara tentang benda-benda gelap di dekat matahari yang tidak pernah kita saksikan. Dia menyejajarkan fakta astronomis ini dengan moralitas. Di belakang soal baik dan buruk ternyata terdapat sebuah kenyataan gelap. Jika begitu adanya, apa yang terang benderang yaitu moralitas, harus dianggap sebagai semacam hieroglif atau tanda-tanda yang menyembunyikan sebuah rahasia kegelapan. Rahasia ini bisa dibuka dengan penafsiran yang disebutnya sebagai genealogi. 

Genealogi adalah pembongkaran kedok-kedok nafsu, kepentingan, ketakutan, dan harapan-harapan yang terungkap dalam satu pandangan tertentu tentang dunia. Dengan gaya berfikir filsafat demikian, sehingga kita bisa mendobrak dan membongkar segala bentuk kemapaman, kepentingan, kepuasan diri, dan forma apapun, termasuk di dalamnya perkara tentang agama. Namun demikian, dengan menelaah gaya filsafat Nietzsche ada sebagian yang mengatakan bahwa Nietzsche telah membunuh Tuhan, bahkan bergelar padanya sebagai ‘Pembunuh Tuhan’. Eits, jangan suka menyimpulkan dulu, tapi lihatlah pada keseluruhan atas keresahan Nietzsche dengan gaya berfilsafatnya yang justru akan mengantarkan kita untuk memurnikan Tuhan dari kekerdilan anggapan kita tentang Tuhan dan agama.

Memang tidaklah mudah memahami gaya filsafat Nietzsche, kendati demikian ada cara termudah untuk bisa memahami filsafat Nietzsche, yakni membacanya berdasarkan pada pengalaman personal kita sendiri, termasuk di dalamnya pengalaman kita dalam beragama. Ini artinya bahwa untuk memahami filsafat Nietzsche bukan Nietzsche-nya itu sendiri, melainkan kita sendiri sebagai subjek dalam memahami filsafatnya.

Memang, untuk memahami diri sendiri membutuhkan kesungguhan yang mendalam. Karenanya, syarat untuk memahami Nietzsche adalah keberanian diri kita untuk bersungguh-sungguh itu. Hanya dengan bersungguh-sungguh, maka kita bisa mengenal kesungguhannya. Nietzsche adalah manusia yang bersungguh-sungguh sampai akhir, jika kita tidak mau bersungguh-sungguh dengan diri kita, maka kita juga tidak bisa memahami kesungguhannya. Mumet mbok?

Berbicara tentang kesungguhannya Nietzsche, berarti kesungguhannya itu hanyalah salah satu dari kesungguhan darinya. Sedangkan sisi lainnya adalah kepiawaiannya bermain dengan topeng. Atau dengan perkataan lain, kesungguhan Nietzsche membutuhkan topeng yang melindunginya, dan orang harus melucuti topeng itu. Mungkin di balik topeng pertama ada topeng kedua, kemudian dibalik topeng kedua ada topeng ketiga, dan seterusnya. Ini artinya, orang tidak boleh menangkap kata-kata Nietzsche secara apa adanya, dan orang tidak boleh percaya akan segalanya padanya. Siapa percaya begitu saja padanya dan menangkap secara harfiah, maka ia akan kehilangan apa yang ingin dicarinya.

Maklum, karya Nietzsche adalah sebagai karya seni, karenanya orang harus membacanya sebagai seni di mana permainan, paradoks, ironi, dan kontradiksi di dalamnya hanya bisa dinikmati pembaca jika membacanya itu tidak secara mentah dan apa adanya. Karena sebagai seni, dari beberapa karya Nietzsche, sangat dekat dengan pengalaman. Oleh karenanya, hasil dari filsafatnya pun berangkat dari sisi pengalaman. 

Selanjutnya, kehidupan memang problem besar, dan filsafat Nietzsche bukanlah kelicikan yang berupaya untuk menghindar dari problem kehidupan dengan membuat kaidah-kaidah luhur yang sebenarnya hanyalah alasan untuk menutupi kelicikannya. Filsafat Nietzsche adalah tentang realitas, bersifat apa adanya, polos, telanjang, dan tanpa ada embel-embel apapun. Realitas apa adanya dan polos dimaksud, tidak bisa dikonsepkan dengan konsep apapun. 

Demikianlah, tak bosan-bosannya Nietzsche mengajak manusia untuk mengembalikan kehidupan dalam sifatnya yang apa adanya, yang abu-abu, yang polos, dan senantiasa lolos dari cengkeraman kita. Tak bosan-bosannya pula Nietzsche menawarkan agar manusia bersikap santun di depan kehidupan, adalah sikap yang berkebalikan dengan sifat yang sok tau, yang senantiasa mau mencengkeram dan mengebiri kehidupan; yang celakanya lalu diperindah dengan konsep yang luhur-luhur. Sifat santun, hormat, berjarak terhadap kehidupan adalah sikap orang yang tahu diri. Di sinilah tampak bahwa bagi Nietzsche, manusia tidaklah sebesar klaim yang sering dikatakannya.


Catatan Akhir

Jika memahami gaya filsafat Nietzsche tentu saja sangatlah melelahkan, karena kita ditantang untuk terus mencari dan memperbarui diri kita tanpa kenal istirahat. Sungguh suatu rigoritas atau ketepatan yang ketat, tidak hanya menyangkut pada diri kita, akan tetapi menyangkut juga cara pandang kita terhadap kehidupan. Itulah resiko jika kita mau bergulat dalam peziarahan filosofis bersama Nietzsche.

Tentu proses ini sungguh melelahkan dan membutuhkan daya tahan pun napas panjang. Karena kita ditantang untuk menjalani lorong-lorong yang tidak kita kenal. Bahkan, ketika kita merasa sudah sampai ke tujuan pun, kita diminta untuk menghempaskan lagi apa yang telah kita capai dan melanjutkan peziarahan lagi. Betapa pun, ziarah ini sesungguhnya amatlah indah, karena akan mengantarkan kita jatuh ke dalam pelukan keterbatasan yang tidak bisa dibatasi oleh apapun juga. 

Memang, berani membaca pemikiran Nietzsche berarti berani meresikokan diri untuk menggugat dan mempetualangkan kembali pengertian dan keadaan kita yang sudah mapan. Beranikah kita masuk ke dalam petualangan di mana kita diajak membayangkan: manusia itu adalah pencipta, dan Tuhan adalah ciptaannya? Beranikah kita membayangkan bahwa sebagai pencipta, manusia lebih besar daripada ciptaannya? Tambah mumet

Sebenarnya, jika kita berani bergulat dengan pemikiran filsafat Nietzsche, justru kita akan mengatakan bahwa manusia itu sebagai ciptaan teragung dan memulangkan kembali Tuhan sebagai Sang Pencipta yang tidak pernah bisa dibatasi oleh kehebatan ciptaannya, juga ciptaannya yang bernama manusia beriman dan beragama. Realitas ini tak bisa kita simpulkan di muka, namun harus kita cari dalam ziarah yang tak pernah habis dan yang melelahkan ini. Jika kita tidak sabar dan kuat dalam melakukan peziarahan ini, maka akan mengajak kita pada titik henti, baik sebagai theistik konservatif maupun sebagai seorang atheis yang tidak mampu menggugat dirinya lagi. Karena bagi Nietzsche, ukuran manusia bukan mana yang lebih besar (theis atau atheisnya), melainkan mana yang menjadikan manusia menjadi lebih besar dan sanggup untuk terus berjalan menatap keterbatasan dirinya.

Tidak banyak pemikir yang berani mengajak kita untuk menggugat diri secara habis-habisan; agar kita sampai pada inti diri yang kita harapkan. Nietzsche adalah salah satu dari sedikit pemikir yang mengajak kita untuk menyelami diri kita hingga keterbatasannya, karena pemikirannya selalu mengajak kita untuk melihat diri kita lebih jauh.

"Tidakkah kemampuan melihat lebih jauh itu sesungguhnya adalah kemampuan iman dan kepercayaan yang seharusnya dipunyai orang beragama?"

Pembaca filsafat Nietzsche harus berani menjadi dirinya sendiri, dan menangkap filsafat Nietzsche juga sesuai dengan kejadian dirinya sendiri...

*Mizanul Akrom

 

MENGENAL TEORI KRITIS JURGEN HABERMAS

MENGENAL TEORI KRITIS JURGEN HABERMAS
"Teori kritis tidak mengambil jarak antara teori dan praksis, akan tetapi berusaha mendekatkan dan bahkan mengawinkan antara keduanya (teori dan praksis), dalam rangka menyuburkan pemahaman bahwa kancah kehidupan manusia dan gelanggang kegiatan praksisnya selalu bersetubuh."


Jurgen Habermas dikenal sebagai pembaharu teori kritis sekaligus penerus Mazhab Frankfurt, yang masuk sebagai 'Generasi Kedua' Mazhab ini. Dalam pandangannya, Habermas menolak ortodoksi Marxisme dengan membuka kran diskursus baru, dan kemungkinan tertuju pada falsifikasi; pengguguran teori lewat fakta-fakta.

Kritik Habermas atas Marx, lebih difokuskan pada pemahaman Marx tentang kelas sosial masyarakat. Dalam penilaian Habermas atas analisisnya terhadap pemikiran Marx, yang menurutnya Marx telah terjebak pada pemahamannya sendiri yang mengatakan bahwa produksi itu sebagai gerak sejarah perkembangan masyarakat. Pandangan ini, menurut Habermas, justru akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang tanpa kelas dan tanpa hak milik. Teori Marx ini, menurut Habermas, telah usang dan perlu reinterpretasi dengan landasan epistemologi baru, sehingga terlahir teori-teori yang mendorong pada ranah praksis.

Dalam usaha ini, Habermas tampil dengan menganalisis kelemahan-kelemahan epistemologi proyek pencerahan 'Generasi Pertama' atau para pendahulunya; Horkheimer dan Adorno dalam bukunya: 'Dialektic der Afklarung'. Kelelemahan-kelemahan yang ada, oleh Habermas, dijadikan sebagai bahan refleksi untuk mempertimbangkan kembali teori kritis, dan merevitalisasinya dari paradigma kerja menuju paradigma komunikasi.

Usaha Habermas dalam merevitalisasi paradigma kerja ke paradigma komunikasi tersebut, di dalamnya mensyaratkan adanya perubahan struktur dalam ruang publik, yaitu dari pemahaman yang dipersempit oleh praksis ekonomi sebagai hubungan-hubungan dalam proses produksi menjadi praksis komunikasi, yang di dalamnya meliputi seluruh aspek hubungan-hubungan sosial menjadi suatu tujuan. Langkah selanjutnya adalah mentransformasikan masyarakat dari kesadaran palsu yang terkolonisasi oleh sebuah ideologi, menuju kesadaran yang kritis sebagai dekolonisasi dan emansipasi.

Friday, March 27, 2020

SIKAP ILMUWAN-AGAMAWAN MENYAMBUT CORONA

SIKAP ILMUWAN-AGAMAWAN MENYAMBUT CORONA
Pertikaian antara agama dan ilmu pengetahuan (sains) hari ini, mengalami dramatisasi yang luar biasa. Ilmu pengetahuan yang bertumpu pada akal dan rasionalitas manusia telah menjelma pada cipta peradaban yang mengagumkan, seperti teknologi-komunikasi yang sangat canggih dan mencengangkan. Sebaliknya, agama yang merupakan nilai etik-moral manusia lebih dipahami dalam kerangka ketauhidan yang bertumpu pada taklid buta atas kehendak Tuhan yang serba memutuskan kehendak hidup manusia. Sikap ambivalensi atau split of personality manusia ini, terjerambab atas kenyataan dalam menghadapi pandemi coronavirus yang melanda dihampir seluruh nation state di belahan dunia.

Terbatasnya nalar ilmiah umat beragama (Islam) dalam memahami fenomena alam, berakibat pada respon kaum agamawan yang cenderung irasional atau bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan. Di satu sisi, para ilmuwan dalam menghadapi Corona Virus Disease (Covid-19) lebih menggunakan pendekatan dengan penelitian ilmiah-medis, sehingga ia ditantang secara serius untuk menemukan vaksin ampuh penangkal virus, agar virus ini lenyap dari muka bumi. Sebaliknya, sebagian pemuka agama lebih menyikapi Covid-19 dengan doktrin fatalisme beragama dengan narasi bahwa "takdir kematian seseorang itu sudah ditentukan Tuhan, dan tidak perlu takut kepada corona karena yang harus ditakuti hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa". Edan po? 

Bayangkan saja, di hari-hari penuh kegentingan dalam upaya pencegahan terhadap penyebaran Covid-19 seperti sekarang ini, masih ada saja pernyatan doktrin agama yang 'koplak' dengan menolak ajakan untuk menjauh sejenak dari tempat-tempat kerumunan, yang karena memang secara medis, virus ini menular lewat kerumunan dan kontak langsung dengan si penderita.

Rupanya, di tengah gegap gempita perubahan dunia yang begitu cepat, ternyata masih saja ada manusia-manusia yang memilih tinggal di belakang sana, tak bergeming dengan kemajuan dan sains, dan abai terhadap bahaya pandemi corona. Mereka hidup bermodalkan klenik, dogma dan mitos dari ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Pandemi coronavirus, semestinya disikapi secara bijak-rasional oleh para kaum agamawan. Orang-orang beragama hari ini dituntut untuk menyelaraskan antara keimanan dan rasionalitas akalnya dalam menyikapi permasalahan kehidupan. Konkretnya, sikap bijak-rasional beragama diperlihatkan dengan menaati prosedur kesehatan yang ditetapkan oleh ahli kesehatan untuk penanggulangan pandemi coronavirus, sekaligus menyertainya dengan kesungguhan berdoa kepada Tuhan agar sesegera mungkin menghentikan musibah ini.

Kebijakan pemerintah terkait penanggulangan Covid-19 juga harus dipatuhi. Di samping itu, berlakulah bijak dalam bermedia sosial dengan tidak menyebarkan fake news (berita bohong) dan berita yang sifatnya menakut-nakuti, dan yang paling penting adalah menjaga diri dan keluarga kita dengan pola hidup sehat, serta menghindari bepergian di tempat umum dan menghindari kerumunan untuk membantu memutuskan rantai penyebaran virus ini.[]

Thursday, March 26, 2020

MAKNA INTELEKTUALISME

MAKNA INTELEKTUALISME
Kadang kita bertanya-tanya tentang apa makna sesungguhnya dari intelektualisme itu sendiri, dan apakah setiap kelompok, komunitas, atau  pribadi seseorang yang berperan dalam berbagai aktivitas intelektual dikategorikan sebagai sosok intelektual?

Tentu pertanyaan ini selalu menghantui kita, dan menjadi pertanyaan berat untuk dijawab, karena terlalu sulitnya menuai jawaban pasti akan makna ini. Tapi, perlu dipahami secara mendalam dan filosofis bahwa intelektual selalu berada dan bersanding dengan kebenaran. Karena, sekian banyak metode untuk mencari kebenaran, salah satunya adalah diperkuat dengan adanya obsesi intelektualisme.

Memang, yang dimaksud intelektualisme di sini tidak selamanya berhubungan dengan pendidikan tinggi, seperti juga apa yang pernah dikemukakan Antonio Gramsci dalam Selection Prison Notebook. Namun, obsesi intelektualitas adalah obsesi untuk secara lebih cerdas dan berpandangan lebih tajam dalam mencandra realitas sosial yang terjadi.

Di sinilah apa yang pernah dikemukakan Antonio Gramsci sebagai 'intelektual organik' menemukan relevansinya. Karena, intelektualisme lebih mencerminkan sikap yang ingin maju, dan bukan formalitas pendidikan akademis. Dengan begitu, seorang akademisi pun belum tentu ia intelektual, pun demikian seorang intelektual belum tentu seorang akademisi. Intelektual, menurut Gramsci, justru merupakan gelar yang bisa disandangkan pada semua orang; semua orang adalah intelektual. Hanya, apakah setiap orang memerankan fungsi intelektual atau tidak, itulah yang menentukan apakah dia merupakan intelektual organik atau tradisional.

Karenanya, obsesi intelektualisme tidak lain merupakan hakikat naluriah manusia, yakni keinginan untuk maju dan progresif, menatap hari depan yang lebih baik lagi. Jadi, pribadi seseorang dapat dikatakan sebagai sosok intelektual adalah sosok seorang intelektual yang mampu memahami realitas sosial di sekitarnya untuk menjadi, bukan menara gading bagi masyarakat sekitarnya, namun justru sebagai agen of change yang berdiri di avant garde setiap sendi masyarakat. Sedangkan simpul intelektualisme adalah keinginan untuk berfikir lebih analitis, dan berfikir secara bebas dalam ruang yang terbuka di setiap lorong kebudayaan yang tumbuh di masyarakat.[]